Jual Kubah Masjid Di Surabaya

Jual Kubah Masjid Di Surabaya – Masjid memang bukan hanya tempat untuk melaksanakan ibadah untuk golongan muslimin, tetapi juga jadi jejak histori satu peradaban. Lima masjid di bawah ini jadi saksi peradaban Muslim dari beragam etnis yang tinggal di Batavia (saat ini Jakarta). Tiap-tiap masjid mempunyai memiliki garis sejarahnya sendiri seperti sidik jari pada jari jari tangan kita yang tidak sama satu serta yang lain, Kontraktor Kubah Masjid.

Masjid Az-Zawiyah Pekojan (1812) Jakarta Barat SKM

Masjid Az-Zawiyah Pekojan adalah satu diantara masjid tua Jakarta yang ada di lokasi Pekojan. Masjid ini pertama kalinya dibuat oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas pada th. 1812M (26 th. sesudah Masjid Jami’ Kebon Jeruk), Beliau yaitu seseorang ulama yang datang dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Serta dikenal juga jadi tokoh yang mengenalkan kitab ” Fathul Mu’in ” atau kitab kuning yang sampai sekarang ini masih tetap jadikan jadi referensi di kelompok pesantren tradisionil.

Masjid Az Zawiyah Pekojan

Habib Ahmad bin Hamzah Alatas juga adalah guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seseorang ulama besar yang lalu berdakwah di daerah Bogor. Saat dibuat, masjid ini tidak saja adalah satu bangunan untuk beribadah semata tetapi juga adalah tempat penyelenggaraan pendidikan islam. Saat ini bangunan masjid ini dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas.

Masjid Az-Zawiyah ada tidak jauh dari jalan Pekojan Kecil, awalannya cuma berbentuk mushola kecil, Mushola ini lalu diwakafkan sampai saat ini serta lalu jadi satu masjid. Lokasi Pekojan dikenal juga jadi Kampung arab walau awal mulanya ditempati oleh Muslim dari India. Sekarang ini di Pekojan ada 4 Masjid Jami’ serta 26 mushola sebagian salah satunya telah eksis mulai sejak masa kolonial, Jual Kubah Masjid Di Surabaya.

Masjid Langgar Tinggi Pekojan (1829) Jakarta Barat

Portal Resmi Pemerintah Propinsi DKI Jakarta mengatakan kalau Masjid Langgar Tinggi dibuat pada th. 1249H bertepatan dengan th. 1829M. pertama kalinya dibuat oleh seseorang muslim dari Yaman bernama Abu Bakar Shihab di atas tanah wakaf dari Syarifah Mas’ad Barik Ba’alwi. Bangunan itu lantas diperluas oleh Said Naum. Masjid Langgar Tinggi ini tidak jauh dari Masjid Jami’ Annawier, Pekojan yang adalah satu diantara Masjid tua di Jakarta,

Langgar Tinggi dibuat dengan luas lantai dasarnya 8 mtr. x 24 mtr.. Lantai atas dipakai jadi masjid. Beberapa lantai bawah dipakai jadi penginapan beberapa pedagang yang mondar-mandir dengan perahu serta rakit. Termasuk juga penginapan untuk beberapa kolega Abubakar Shihab dari luar kota. Beberapa sekali lagi jadikan rumah pengurus masjid. Saat ini, semua lantai bawah dipakai untuk toko piranti shalat, termasuk juga tasbih, buku-buku agama, dan wangi-wangian ciri khas Timur Tengah serta India. Ada minyak misik, minyak buhur, hingga minyak ular.

Masjid Jami Attaibin Senen (1815) Jakarta Pusat

Awalannya, masjid ini dinamakan Masjid Kampung Besar, dibangun oleh beberapa pedagang muslim Pasar Senen sekitaran th. 1815, atas prakarsa mereka sendiri serta dengan dana swadaya. Dalam perjalanan sejarahnya masjid ini jadi saksi support dari beberapa pedagang di pasar senen pada perjuangan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda dengan berikan support logistik pada beberapa pejuang yang dihimpun di masjid ini.

Masjid ini jadi tempat membuat kiat hadapi kemampuan belanda. Terutama dalam pertempuran Senen, Tanah Tinggi serta Keramat. Di masjid ini juga beberapa pejuang berkumpul serta memperoleh siraman rohani. Tidak heran, sesudah keluar dari masjid ini, semangat juang mereka makin menyala-nyala.

Saat ini, ditengah gencar berubahnya muka kota Jakarta, Mesjid Jami Attaibin seolah terbenam oleh gemerlap gedung-gedung pencakar langit di lokasi Senen, Jakarta Pusat. Meskipun demikian, kesejukan masjid ini semakin merasa. Di sinilah beberapa pegawai gedung-gedung itu sembahyang. Lingkungannya yang asri, menaikkan kekhusukan beribadah.

Masjid Agung Matraman (1837) Jakarta Pusat

Masjid Matraman di Jakarta Pusat dulunya adalah musholla perkampungan pasukan Mataram dalam 2 x penyerbuan mereka yang tidak berjaya pada Belanda di Batavia di th. 1648 serta 1649 serta lalu menjelma jadi Masjid Agung Pertama di Jakarta. Nama Matraman untuk lokasi ini diduga bermula dari kata Mataraman yang lalu beralih jadi Matraman seperti yang di kenal sekarang ini.

Masjid Agung Matraman tidaklah satu satu nya masjid tua di Jakarta yang terkait dengan anggota pasukan Mataram, terkecuali masjid ini terlebih dulu sudah berdiri Masjid Al-Ma’mur di Tanah Abang dibuat th. 1704 atau sekitaran 133 th. lebih dahulu dari Masjid Jami Matraman serta Masjid Jami’ Al-Mansyur di Kampung Sawah Lio Jembatan Lima dibuat th. 1717 atau 120 th. lebih dahulu dari Masjid Agung Matraman. yang keduanya sama dibuat oleh beberapa keturunan pasukan Mataram yang tinggal di sekitaran Batavia.

Didalam Masjid Agung Matraman masih tetap tersimpan kalender yang terbuat dari kayu bertuliskan bhs Arab serta hurup Latin. Kalender ini konon umum dipakai oleh orang Mataram untuk ketahui hari serta hingga saat ini juga masih tetap dipakai jadi keunikan dari Masjid Agung Matraman, Jual Kubah Masjid Di Surabaya.

Dimuka Masjid Agung Matraman ada dua makam tua. Konon, ke-2 makam itu makam prajurit Mataram, mereka yaitu Wanandari serta Wandansari. Tetapi masih tetap simpangsiur apakah makam itu berada di situ sebelumnya dibuat masjid atau sesudah masjid itu ada. Sebagian pihak yang ketahui kehadiran makam tua itu, seringkali menziarahi makam itu.

Leave a Reply