Harga Obat Dunia Dikhawatirkan Naik

Daftar Harga Obat – Kelompok pemerhati kesehatan, orang-orang serta grup pro-pasien di semua dunia sudah lama berjuang protes perjanjian kesepakatan perdagangan bebas yang tengah dalam sistem negosiasi pada Amerika Serikat serta Uni Eropa dengan negara-negara berkembang. Mereka cemas efek perjanjian itu juga akan membawa kenaikan harga obat-obatan, terutama type obat-obatan perlu untuk melawan penyakit-penyakit mematikan.

Perjanjian regional begini semakin lebih menyulitkan atau bahkan juga dapat memblokir akses pemerintah serta pasien pada versus obat-obat generik yang lebih murah. Mengakibatkan, juta-an pasien akan tidak dapat memperoleh obat-obatan perlu untuk menolong menjaga hidup mereka melawan penyakit-penyakit mematikan karna mereka dan pemerintah mereka tidak dapat beli product obat-obatan bermerek (yang dipatenkan).

Gosip memprihatinkan sekarang ini yaitu Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partnership Agreement/TPPA), yang tengah dalam sistem negosiasi pada Amerika Serikat, Australia, Malaysia, Brunei, Vietnam, Singapore, New Zealand serta Peru.

Terutama menyangkut perumusan bab mengenai “kekayaan intelektual” TPPA, di mana AS dengan getolnya menyarankan kalau hak beberapa pemegang paten (yang sebagian besar yaitu perusahaan-perusahaan farmasi raksasa) mesti lebih “dilindungi”. Bila disetujui, hal semacam ini juga akan beresiko jelek untuk beberapa produsen obat-obatan generik, pemerintah negara-negara berkembang/miskin yang sampai kini tergantung serta beli stock obat-obatan untuk rumah sakit mereka, dan untuk beberapa pasien.

Dalam kesepakatan perjanjian TRIPS Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), pemerintah mempunyai hak serta wewenang sendiri untuk mengatur standard pagi pemberian (hak) dan untuk menampik aplikasi paten yang dipandang bukanlah adalah hasil penemuan yang beresiko singnifikan.

Tetapi ketentuan juga sangat mungkin pemerintah untuk memberi “ijin wajib” untuk perusahaan obat-obatan beda untuk menghasilkan obat-obatan versus generik dari yang sudah dipatenkan berdasar pada sebagian pertimbangan : apabila perusahaan pemegang hak paten tidak memperkenankan perusahaan beda menghasilkan (obat-obatan itu) tanpa ada argumen yang pasti, atau bila berlangsung monopoli (oleh pemegang hak paten) atau dalam kondisi di mana ada usaha anti-kompetisi (oleh pemegang hak paten), serta yang paling akhir yaitu bila pemberian ijin merubah kebutuhan/hajat hidup orang banyak.

Dalam beragam usaha negosiasi TPPA ini, AS menyarankan keharusan untuk negara-negara untuk memperketat undang-undang hak paten yang lebih ketat dari perjanjian TRIPS WTO. Hal semacam ini untuk berikan semakin banyak hak istimewa untuk beberapa perusahaan farmasi raksasa itu untuk nikmati paten mereka, dan membatasi pemerintah negara-negara berkembang untuk memakai ketentuan “fleksibilitas” yang dijinkan oleh WTO.

Kajian organisasi kemanusiaan medis internasional MSF (Medecins Sans Frontieres/Dokter Lintas Batas), pemenang penghargaan Nobel Perdamaian, menguraikan efek jelek untuk dunia kesehatan bila saran Amerika Serikat disetujui dalam TPPA.

Kajian itu mengutamakan perlunya obat-obatan generik. Harga obat-obatan paten HIV generasi awal sudah berhasil di turunkan 99 per sen dari harga aslinya dalam dekade paling akhir — dari 10. 000 dollar AS (Rp. 95. 830. 000) per orang di th. 2000 jadi sekitaran 60 dolar AS (Rp. 574. 980) sekarang ini — karena usaha produksi obat-obatan generik di India, Brazil serta Thailand di mana obat-obat itu belum juga dipatenkan.

Penurunan harga yang dramatis ini sudah memampukan usaha penambahan penangan serta penyembuhan HIV/AIDS hingga dapat mencapai lebih dari 6 juta orang di negara-negara berkembang.

MSF memiliki pendapat kalau saran AS dalam TPPA juga akan menyebabkan beragam beberapa masalah di bawah ini :

Awal, saran AS juga akan memperluas ruangan lingkup paten : AS menginginkan buat sistem mematenkan bentuk-bentuk baru obat lama jadi lebih gampang, meskipun (product baru itu) tidak tawarkan manfaat therapy penambahan untuk pasien. Ketentuan WTO sangat mungkin pemerintah untuk mengambil keputusan type ” inovasi ” yang layak untuk dilindungi oleh hak paten. Tetapi, saran AS membatasi kekuatan pemerintah untuk memastikan apa yang dapat ” dipatenkan “. AS menekan ijin pematenan satu ” bentuk baru, pemakaian, atau cara pemakaian ” product yang telah ada – bahkan juga bila tak ada penambahan manfaat atau jaminan kesuksesan.

Ke-2, AS menginginkan negara-negara beda untuk sangat mungkin paten untuk tanaman serta hewan, serta cara diagnostik, therapy serta bedah untuk penyembuhan manusia, walau Kesepakatan TRIPS WTO sangat mungkin negara-negara untuk mengecualikan paten untuk beberapa hal tertulis diatas.

Ke-3, AS menyarankan untuk membatasi kesepakatan awal oposisi paten, walau ketentuan WTO sangat mungkin hal semacam ini.

Ke-4 yaitu saran untuk mempunyai bentuk-bentuk baru penegakan serta proses pertauran Kekayaan Intelektual, seperti mengijinkan petugas bea cukai untuk mengambil alih pengiriman obat (bahkan juga dalam transit), meskipun cuma berlandaskan sangkaan belaka kalau paket itu yaitu product palsu, untuk kurangi pelanggaran pada Kekayaan Inteltual.

Ke-5, serta yang paling serius, yaitu saran AS mengenai ” eksklusivitas data “. Hal semacam ini juga akan menghindar perusahaan obat generik memakai data riset klinis yang ada (yang sudah dimasukan terlebih dulu oleh perusahaan obat originator) untuk memperoleh kesepakatan ketentuan obat-obatan mereka, hingga produsen obat generik sangat terpaksa mesti lakukan duplikasi uji klinis atau mesti menanti hingga periode masa ” monopoli data ” selesai.

Ke-6, AS menginginkan periode waktu hak paten diperpanjang dari ketentuan yang diaplikasikan WTO (20 th.) jadi lebih dari 20 th.. AS diprediksikan juga akan berupaya keras untuk perpanjang periode hak paten untuk mengkompensasi keterlambatan administrasi dalam sistem regulasi.

Tujuh, AS berupaya untuk menghubungkan gosip hak paten dengan ketentuan keamanan obat-obatan, serta juga akan memberdayakan deretan otoritas pengawas obat jadi ” polisi paten “, menurut MSF.

Di Malaysia, kelompok-kelompok pemerhati kesehatan orang-orang serta kelompok medis sudah keluarkan pernyataan dengan menentang saran AS yang menurut mereka juga akan kurangi akses pada obat-obatan.

” Kami dengan tegas menentang tuntutan AS untuk perpanjang hak paten obat-obatan serta dan tehnologi medis yang perlu untuk menyelamatkan nyawa orang-orang Malaysia, ” kata pemimpin dari National Cancer Society Malaysia, Breast Cancer Welfare Association, Malaysian AIDS Council, MTAAG +, Thoracic Society Malaysia serta Mental Health Association Malaysia.

Menurut mereka, (perlakuan penyakit) kanker payudara memerlukan obat-obatan kemoterapi yang murah. Type obat-obatan HIV seperti Kaletra saja masih tetap dipandang mahal sekarang ini, walau sebenarnya obat ini dibutuhkan untuk menjaga serta perpanjang hidup pasien HIV.

Banyak usaha perlakuan penyakit beda seperti kanker, TBC, malaria serta diabetes, yang begitu tergantung pada obat-obatan generik.

Mereka memberikan kalau obat-obatan yang dipatenkan sangat mahal harga nya, untuk penyembuhan Glivec (untuk menyembuhkan kanker gastro-intestinal) umpamanya, perlu Rp 30. 680. 000 tiap-tiap bulannya per pasien. Sorafenib Tosylate (untuk menyembuhkan kanker hati serta kanker ginjal) memerlukan cost Rp. 30. 265. 820 per bulan untuk 1 pasien, sedang dengan obat versus generik-nya cuma memerlukan cost sekitaran Rp 1, 1 juta saja.

Mereka memohon supaya saran AS, termasuk juga untuk perpanjangan masa paten, hubungan data, serta beberapa langkah pengawasan perbatasan, tidak diterima.

Banyak pihak yang mencemaskan sistem negosiasi TPPA yang tengah berjalan serta dikerjakan seutuhnya dengan rahasia ini. Karna memengaruhi kesehatan umum/kebutuhan orang banyak, negosiasi ini semestinya dengan transparan hingga masih tetap ada ruangan untuk pengawasan umum. Kondisi ini menekan, karna beberapa usaha negosiasi TPPA berjalan dengan intensitas yang amat cepat serta dijadwalkan mesti usai pada akhir th. ini. Baca Juga : Obat Tradisional

Leave a Reply